Menuju Atap Sunda #1

img_0147

Kurang lebih setelah 45 harian berkutat pada kertas-kertas, laptop, kopi, kedai 24 jam dan bertatap muka dengan 5 orang lainnya yang mungkin juga sudah muak satu dengan yang lain. Maksudku muak adalah seperti bosan yang berlebihan (haha). Bagaimana tidak, dari pertengahan Juni hingga awal Agustus 2016 lalu hampir selama 20 jam dalam sehari kami harus bertemu. Menyiapkan semua yang diperlukan, menyiapkan amunisi meyakinkan para pemberi izin, menyiapkan fisik dan mental juga materi, menyiapkan data sekunder, menyiapkan sesuatu yang mungkin bisa saja terjadi sewaktu-waktu pada perjalanan yang diimpikan itu.

Betul memang yang mereka (pernah mengalami sebelumnya) katakan, ini adalah prosesi terberat. Konsekuensi, tanggung jawab, pantang menyerah, hingga keikhlasan memperjuangkan segala hal adalah tantangan. Akan ada banyak masalah yang muncul dan kami dipaksa menyelesaikannya secepat kilat. Waktu yang memaksa kami, dengan tega dan tidak mau tau seberapa rumit masalah yang kami hadapi. Namun waktu juga yang menjawab dan mengobati segalanya. Ia bijaksana.

Bertepatan dengan tanggal ulang tahun ibu pertiwi, 17 Agustus di tahun 2016 akhirnya kami harus menepuk jidat berulang kali. Benarkah kami diberangkatkan? dan Ya! Perjalanan dimulai dari sini.

Semua perlengkapan, barang-barang dan perlatan yang dibutuhkan telah siap. Yakin tidak ada yang belum terpacking. 6 Carrier full pack kapasitas 60-80L dan 2 daypack 35L serta 2 tas camera DSLR. Tepat pukul 10.00 WIB, kami yang hanya berenam berdiri berjajar didepan peserta upacara lainnya. Bukan upacara kemerdekaan, meskipun saat itu tepat dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Namun, upacara lain yang kami nanti-nanti yaitu upacara pelepasan. Dan dihari yang sama kami akan diberangkatkan ke lapangan.

Perlahan langit berubah menjadi kelabu, mengawali perjalanan kami. Dan benar saja, butir-butir air mulai jatuh dan membasahi. Kami bergegas memasuki angkot kecil yang bisa dibilang cukup tua dan reot jika dilihat dari penampilannya. Kami menata semua barang dan tempat duduk agar semua muatan dapat masuk. Kurang lebih 15 menit didalam angkot, akhirnya kami sampai di Stasiun Lempuyangan, stasiun ini merupakan stasiun yang paling dekat dengan kampus . Kala itu cukup ramai penumpang di bangku penunggu dan sudah kami sangka, di sana telah banyak kakak-kakak yang akan mengantarkan keberangkatan kami. Dengan segera, tangan-tangan kami harus menenteng plastik yang isinya snack entah berapa jumlahnya, banyak! (haha).

Didalam Kereta Progo yang meluncur begitu cepat, kami lebih memilih beristirahat dengan sesekali bercengkerama karena perjalanan masih cukup jauh dan keesokan harinya kami akan berkegiatan dari pagi buta. Kamipun berganti transportasi darat lainnya setelah sampai di Stasiun Prujakan. Kali ini, angkot berukuran cukup besar dengan warna nyentrik dan lampu-lampu yang menghias sisi-sisi luarnya, mengantarkan kami menuju sebuah desa sebagai persinggahan kami untuk beberapa hari kedepan. Berbeda dengan angkot reot sebelumnya, Elf ini melaju begitu cepat, melintasi jalanan kota dengan lampu jalannya yang terang benderang, serta muka jalan yang mulus. Perlahan pemandangan mulai bermetamorfosis, seiring bintang-bintang yang semakin berpijar. Lampu jalan mulai menghilang, udara semakin dingin, angin bertiup kencang dan jalanan mulai berlekuk-lekuk serta berkelok-kelok. Sesekali ban mobil melindas bebatuan, membuat mobil melayang seper-sekian ratus detik di udara dan membuat carrier yang telah tersusun jatuh ke lantai mobil.

Di desa Argalingga ( sebelah utara Desa Argamukti) tiba-tiba mobil berhenti dan kami menemui masalah. Di tengah jalan, ramai warga yang sedang duduk berjajar di depan sebuah panggung. Suatu pertunjukan sedang berlangsung kala itu, pertunjukan rutin untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Mobil yang kami tumpangi tidak mampu melewati sisi jalan disamping panggung yang tidak terpakai, kerena terlalu sempit. Akhirnya kami memutuskan menumpangi mobil bak terbuka milik warga sekitar, lebih tepatnya menyewa. Karena, masih cukup jauh jika ingin dilanjutkan dengan berjalan kaki. Lagi, sisa-sisa tenaga kami setelah perjalanan lebih dari setengah hari sepertinya tidak cukup kuat untuk berjalan di jalanan terjal dengan menggendong carrier dan tandem daypack yang sudah terbayangkan beratnya. Pula, tubuh kami masih belum beradaptasi dengan optimal terhadap keadaan sekitar yang berbeda drastis dari lokasi sebelumnya.  Di kecamatan Argapura memang banyak sekali penduduk yang memiliki angkutan berupa mobil bak terbuka. Selain untuk transportasi umum masyarakat desa menuju Majalengka, untuk pergi ke Pasar Maja mapun tempat-tempat umum lain yang tersedia, atau hanya sekedar ke desa-desa sebelum Majalengka, mobil bak terbuka tersebut digunakan untuk mengangkut hasil panenan masyarakat yang mayoritas mengais rezeki dengan berladang.

Udara dingin, jalanan terjal dan gelap gulita serta tiupan angin yang menampar kulit menghilangkan rasa kantuk yang kami rasakan. Dari kejauhan mulai terlihat lampu-lampu rumah warga di desa yang yang kami tuju, Argamukti. Kini, lampu-lampu yang bergantungan di jalan tak seterang lampu jalan yang beberapa waktu lalu kami lihat di kota. Bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan berirama tertiup angin malam khas pegunungan, sesekali berbunyi “teng” bertabrakan dengan plat seng berbentuk piringan sebagai penutup lampu, layaknya lampu-lampu jadoel. Keheningan menyambut kami yang pertama kali menginjakkan kaki di depan Kantor Balai Desa Argamukti, terdapat sebuah Beringin dengan papan kayu terpaku di batangnya bertuliskan “Jalur Pendakian Apuy”, menunjukkan bahwa kami telah sampai. Dibantu beberapa warga yang saat itu sedang ronda malam, kami berhasil menemukan rumah Pak Kadus untuk menginap beberapa hari ke depan yang memang sudah kami hubungi sewaktu kami masih di Jogja. Kehangatan Pak Emo, Kadus Blok Apuy menyambut kedatangan kami serta perbincangan dengan penduduk dan warga setempat menutup cerita malam itu.

img_0150

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: