Artificial Climbing

Jadi, kali ini aku ingin berbagi cerita dan pengalaman aku. Bukan untuk apa-apa, biar bisa ingat saja. Karena jujur aku orang yang begitu pelupa. Lagi, kupikir berbagi pengalaman juga tak ada salahnya.

Oke, kuceritakan sedikit tentang latar belakangku. Aku adalah mahasiswi Jurusan Kehutanan di Universitas Gadjah Mada angkatan 2015. Aktif di salah satu organisasi yakni Mapala Silvagama (mapala kehutanan UGM) yang mana bergerak di bidang konservasi sehingga sejalan dengan jurusanku. Di Silva (sebutan singkat organisasi) aku memilih satu diantara 5 divisi yang ada, yaitu Panjat Tebing bersama satu orang lain se-gladianku (sebutan angkatan yang dilantik pada saat yang sama, Gladianku dinamai Gladian Owa). Sedangkan empat divisi lainnya antara lain Caving (Susur Goa), Rimba Gunung, Lingkungan dan Rafting.

Okay,back to the topic. Beberapa waktu lalu pada saat kami (Aku, dan kakak-kakak gladian atasku) survey untuk materi dasar gladian bawahku di Pantai Siung Gunung Kidul kami melakukan sport climbing dan artificial climbing. Memang Pantai Siung yang berada di barisan pantai selatan Gunung Kidul ini merupakan spot pemanjatan yang terkenal diantara orang-orang yang berhobi olahraga cukup ekstrim ini. Terdiri dari banyak blok, dan disetiap bloknya memiliki banyak jalur, dari yang pendek hingga panjang, mudah hingga sukar. Diantaranya yang paling terkenal adalah jalur Kuda Laut. 

Survey hari pertama kami melakukan pemanjatan sport di blok J yang terdiri dari beberapa jalur (sepertinya 3). Dan kami hanya mencoba 2 diantaranya. Karena salah satu jalurnya sudah berlumut dan basah sehingga tidak memungkinkan. Pemanjatan hari kedua, paginya kami melakukan pemanjatan sport juga di blok E serta siang setelah makan, kami bersiap untuk artificial climbing / pemanjatan artificial.

Dalam pemanjatan artificial terdapat istilah first man dan second man. First man adalah orang yang melakukan pemanjatan pertama, bertugas untuk membuat jalur, membuat pengaman setelah sampai diatas untuk dirinya sendiri dan untuk secondman, membuat instalasi untuk belaying second man dan untuk belaying ketika first man turun atau second man turun terlebih dahulu. Sedangkan second man adalah orang yang memanjat setelah jalur dan pengaman sudah siap dan di belay oleh first man dari atas. Untuk cleaning jalur bisa dilakukan ketika first man atau second man turun dahulu, maupun ketika second man naik. Saat itu kami (Aku dan Reza, teman se Gladianku) memutuskan aku sebagai first man dan Reza sebagai second man, sedangkan cleaning jalur dilakukan Reza sembari naik dan aku adalah pemanjat yang akan turun terlebih dahulu.
Langkah pertama pertama yang harus dilakukan adalah Ormed (orientasi medan), memandangi tebing yang akan di panjat dan membayangkan cacat tebing yang akan di pegang dan sebagai injakan kaki, serta karena pemanjatan artificial maka yang terpenting harus dilakukan adalah cacat tebing yang dapat digunakan untuk jalur misalnya lubang tembus yang dapat dibuat tambatan dengan prusik dan diberi CONS (Carrabinner Oval Non Scrue) ataupun snap yang disimpul kambing. Sepanjang jalur menggunakan CONS maupun snap karena agar lebih mudah memasukkan carmantel yang menyatu dengan pemanjat. Cacat tebing lainnya adalah lubang yang bisa dimasuki hexa atau stopper, crack maupun lubang agak besar yang dapat dipasang friend. Serta dengan phyton blade atau angel yang prinsipnya hampir sama dengan memaku, yaitu menancapkan ujung phyton ke tebing dengan bantuan hammer. Pembuatan tambatan yang terakhir ini jarang dilakukan karena kerusakan tebingnya lebih besar diantara yang lain. Sedangkan untuk pengaman dan instalasi mutlak menggunakan COS agar lebih aman.

Setelah ormed dan menghitung jumlah anchor yang dibutuhkan untuk jalur dan pengaman serta instalasi, kami mulai bergegas. Memasangkan alat-alat yang dibutuhkan friend 3 ukuran, hammer, phyton 3 buah, prussik sekitar 6 buah, cordellete 2 buah, sling webbing, COS, dan CONS serta snap yang aku lupa jumlahnya.

“Belay on”,  Aku ucapkan dan dibalas oleh Reza “on belay” Katanya. Karena tebing yang dipanjat cukup mudah maka kami cukup santai dan tidak terburu-buru. Aku mulai memanjat dan memasang sekitar 3 pengaman di jalur dengan 2 friend dan satu prusik (sepertinya).Sesampainya diatas aku membuat 2 pengaman untukku agar pembelay tidak terlalu lama mem- back up aku dari bawah (istilahnya free). Kemudian setelah aku bergelantungan pada kedua pengamanku aku membuat pengaman untuk Reza. Membuat pengaman tidak boleh asal, harus dicoba dan di hentak kekanan kekiri dan atas bawah. Ketika sudah yakin, barulah membuat pengaman lain. Setelah kubuat pengaman untuknya disebelah kiriku, Aku segera membuat instalasi di tengah-tengah. Pertama dengan membuat 3 pengaman, kemudian ketiga pengaman dihubungkan dengan sebuah cordellete sehingga jika ditarik membentuk lingkaran dan simpul diletakkan di pinggir bagian kiri.bagian cordellete yang berada diantara COS ditarik kebawah kemudian diputar dan bersama bagian cordellete dibawahnya dihubungkan dengan COS. Setelah semuanya bersiap, Aku bersiap untuk membelay Reza dari atas menggunakan Gri-gri (salah satu belay device). Gri-gri kuletakkan di instalasi dan dengan prinsip seperti katrol aku belay Reza dari atas. Setelah dia sampai diatas, memasang pengamannya, dia bersiap membelay Aku untuk turn. Dan setelah siap, aku turun dengan teknik climb down, akhirnya menapak tanah lagi. Alhamdulillah he he 

Iklan

4 respons untuk β€˜Artificial Climbing’

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: