Comeback?

Hey, lama tak bersua denganmu. Kangen juga nulis di sini, tentang apapun. Kangen baca komen2 orang ūüėÄ juga. Entah sesibuk apa kemaren, sampai tak sempat mengetik satu katapun disini. Atau bukan karena sibuk, melainkan tidak ada inspirasi? Mungkinkah kehabisan kata. Em yang jelas aku kehilangan sesuatu yang menginspirasi (Halahh!). Sudahlah, yang jelas aku tak benar2 lupa. Cuma rehat sejenak. Hey, selamat dini hari para penikmat bacaan dan penggemar tulisan ūüôā

Menuju Atap Sunda #1

img_0147

Kurang lebih setelah 45 harian berkutat pada kertas-kertas, laptop, kopi, kedai 24 jam dan bertatap muka dengan 5 orang lainnya yang mungkin juga sudah muak satu dengan yang lain. Maksudku muak adalah seperti bosan yang berlebihan (haha). Bagaimana tidak, dari pertengahan Juni hingga awal Agustus 2016 lalu hampir selama 20 jam dalam sehari kami harus bertemu. Menyiapkan semua yang diperlukan, menyiapkan amunisi meyakinkan para pemberi izin, menyiapkan fisik dan mental juga materi, menyiapkan data sekunder, menyiapkan sesuatu yang mungkin bisa saja terjadi sewaktu-waktu pada perjalanan yang diimpikan itu.

Betul memang yang mereka (pernah mengalami sebelumnya) katakan, ini adalah prosesi terberat. Konsekuensi, tanggung jawab, pantang menyerah, hingga keikhlasan memperjuangkan segala hal adalah tantangan. Akan ada banyak masalah yang muncul dan kami dipaksa menyelesaikannya secepat kilat. Waktu yang memaksa kami, dengan tega dan tidak mau tau seberapa rumit masalah yang kami hadapi. Namun waktu juga yang menjawab dan mengobati segalanya. Ia bijaksana.

Bertepatan dengan tanggal ulang tahun ibu pertiwi, 17 Agustus di tahun 2016 akhirnya kami harus menepuk jidat berulang kali. Benarkah kami diberangkatkan? dan Ya! Perjalanan dimulai dari sini.

Semua perlengkapan, barang-barang dan perlatan yang dibutuhkan telah siap. Yakin tidak ada yang belum terpacking. 6 Carrier full pack kapasitas 60-80L dan 2 daypack 35L serta 2 tas camera DSLR. Tepat pukul 10.00 WIB, kami yang hanya berenam berdiri berjajar didepan peserta upacara lainnya. Bukan upacara kemerdekaan, meskipun saat itu tepat dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Namun, upacara lain yang kami nanti-nanti yaitu upacara pelepasan. Dan dihari yang sama kami akan diberangkatkan ke lapangan.

Perlahan langit berubah menjadi kelabu, mengawali perjalanan kami. Dan benar saja, butir-butir air mulai jatuh dan membasahi. Kami bergegas memasuki angkot kecil yang bisa dibilang cukup tua dan reot jika dilihat dari penampilannya. Kami menata semua barang dan tempat duduk agar semua muatan dapat masuk. Kurang lebih 15 menit didalam angkot, akhirnya kami sampai di Stasiun Lempuyangan, stasiun ini merupakan stasiun yang paling dekat dengan kampus . Kala itu cukup ramai penumpang di bangku penunggu dan sudah kami sangka, di sana telah banyak kakak-kakak yang akan mengantarkan keberangkatan kami. Dengan segera, tangan-tangan kami harus menenteng plastik yang isinya snack entah berapa jumlahnya, banyak! (haha).

Didalam Kereta Progo yang meluncur begitu cepat, kami lebih memilih beristirahat dengan sesekali bercengkerama karena perjalanan masih cukup jauh dan keesokan harinya kami akan berkegiatan dari pagi buta. Kamipun berganti transportasi darat lainnya setelah sampai di Stasiun Prujakan. Kali ini, angkot berukuran cukup besar dengan warna nyentrik dan lampu-lampu yang menghias sisi-sisi luarnya, mengantarkan kami menuju sebuah desa sebagai persinggahan kami untuk beberapa hari kedepan. Berbeda dengan angkot reot sebelumnya, Elf ini melaju begitu cepat, melintasi jalanan kota dengan lampu jalannya yang terang benderang, serta muka jalan yang mulus. Perlahan pemandangan mulai bermetamorfosis, seiring bintang-bintang yang semakin berpijar. Lampu jalan mulai menghilang, udara semakin dingin, angin bertiup kencang dan jalanan mulai berlekuk-lekuk serta berkelok-kelok. Sesekali ban mobil melindas bebatuan, membuat mobil melayang seper-sekian ratus detik di udara dan membuat carrier yang telah tersusun jatuh ke lantai mobil.

Di desa Argalingga ( sebelah utara Desa Argamukti) tiba-tiba mobil berhenti dan kami menemui masalah. Di tengah jalan, ramai warga yang sedang duduk berjajar di depan sebuah panggung. Suatu pertunjukan sedang berlangsung kala itu, pertunjukan rutin untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Mobil yang kami tumpangi tidak mampu melewati sisi jalan disamping panggung yang tidak terpakai, kerena terlalu sempit. Akhirnya kami memutuskan menumpangi mobil bak terbuka milik warga sekitar, lebih tepatnya menyewa. Karena, masih cukup jauh jika ingin dilanjutkan dengan berjalan kaki. Lagi, sisa-sisa tenaga kami setelah perjalanan lebih dari setengah hari sepertinya tidak cukup kuat untuk berjalan di jalanan terjal dengan menggendong carrier dan tandem daypack yang sudah terbayangkan beratnya. Pula, tubuh kami masih belum beradaptasi dengan optimal terhadap keadaan sekitar yang berbeda drastis dari lokasi sebelumnya.  Di kecamatan Argapura memang banyak sekali penduduk yang memiliki angkutan berupa mobil bak terbuka. Selain untuk transportasi umum masyarakat desa menuju Majalengka, untuk pergi ke Pasar Maja mapun tempat-tempat umum lain yang tersedia, atau hanya sekedar ke desa-desa sebelum Majalengka, mobil bak terbuka tersebut digunakan untuk mengangkut hasil panenan masyarakat yang mayoritas mengais rezeki dengan berladang.

Udara dingin, jalanan terjal dan gelap gulita serta tiupan angin yang menampar kulit menghilangkan rasa kantuk yang kami rasakan. Dari kejauhan mulai terlihat lampu-lampu¬†rumah warga di desa yang yang kami tuju, Argamukti. Kini, lampu-lampu yang bergantungan di jalan tak seterang lampu jalan yang beberapa waktu lalu kami lihat di kota. Bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan berirama tertiup angin malam khas pegunungan, sesekali berbunyi “teng” bertabrakan dengan plat seng¬†berbentuk piringan sebagai penutup lampu, layaknya lampu-lampu jadoel. Keheningan menyambut kami yang pertama kali menginjakkan kaki di depan Kantor Balai Desa Argamukti, terdapat sebuah Beringin dengan papan¬†kayu terpaku di batangnya bertuliskan “Jalur Pendakian Apuy”, menunjukkan bahwa kami telah sampai. Dibantu beberapa warga yang saat itu sedang ronda malam, kami berhasil menemukan rumah Pak Kadus untuk menginap beberapa hari ke depan yang memang sudah kami hubungi sewaktu kami masih di Jogja. Kehangatan Pak Emo, Kadus Blok Apuy menyambut kedatangan kami serta perbincangan dengan penduduk dan warga setempat menutup cerita malam¬†itu.

img_0150

Undescribe-able

Kapan kamu merasa paling tertekan? Kapan kamu merasa begitu payah? Mau marah tak ada tempat? Kaupikir Semua orang tak paham rasamu? Alhasil, kau memarahi diri sendiri? Seberapa parah? seberapa marah? Dan kenapa..?

Kamu sering menangis? Kamu tetap keras kepala, menyimpannya sendiri dan tak ingin bercerita. Kupikir setiap orang memiliki masalahnya sendiri, tidak bisa dibandingkan. Berbeda! Dan adakalanya sesuatu cukup dipendam sendiri, rapat-rapat.

Hanya ketahuilah, menurutku lebih banyak hal yang bisa membuatmu tersenyum daripada tersendu. Banyak yang menguatkan daripada yang menjatuhkan. Buktinya, kamu bisa bertahan hingga saat ini. Bukankah itu tandanya kamu lebih hebat masalahmu? Hei, kamu masih punya harapan yang menguatkan. Kamu punya nyawa kedua. Allah, Orang tuamu, sahabat-sahabatmu. Hidupmu bukan tentang kamu saja, banyak hal yang mengelilingi sekitarmu, membentukmu apa adanya kamu hari ini. Namun, sebagaimana mestinya manusia tanpa kesempurnaan, kita merasa terjatuhkan bahkan dari yang kusebut nyawa kedua tadi.

Kau pernah merasa jadi pemeran cerita yang kau rasa tidak adil? Sering?. Mungkin saja itu baru awal, kau belum tau kisah lengkapnya. kau baru sadar ketika pada akhirnya kau dikejutkan dengan ending yang keren. Atau bisa saja, Sang Pengingat sedang menarikmu agar kembali ke jalur. Kau terlalu jauh melenceng. Bukankah kau senang Dia masih peduli padamu. Menyalahkan keadaan dan diri sendiri malah membuatnya semakin rumit . Bersyukur, kau masih diijinkan bernapas, memperbaiki yang sebelumnya kau rasa salah. 

Kau pernah dimarahi orangtuamu? Keinginanmu tidak dikabulkan? Ini salah, itu salah? Kau didekte harus begini, begitu? Kupikir semua itu dilakukan oleh orang tua. Itu tandanya, mereka sangat mengasihimu. Terkadang mereka hanya perlu sedikit pengertian, dan akan dengan sendirinya paham apa yang kita inginkan. Bahkan disaat kecewa kepada buah hatinya pun mereka menyembunyikannya dengan melengkungkan senyum. Padahal kau tau, dia sedang menangis tanpa air mata. Doanya dicurahkan ketika duduk diatas sajadah dengan sangat lama. Seperti sedang bernego, karena restu Ilahi adalah restu orang tua. Mereka berdua adalah yang paling mudah memahamiku selama ini. Tanpa kubilang, mereka sudah paham. Ajaib…… Sudah barang tentu, mereka berharga, maka apakah kamu masih meragukan nikmatNya ketika masih bisa membersamai orang-orang ajaib itu? 

Hei, kamu sering sakit hati oleh orang-orang sekitarmu? Membuatmu enggan untuk mendekat lagi? Bukankah mereka lebih sering memberikan tawa? Bukankah dia juga manusia, mereka juga bisa salah kan? Kamu hanya perlu ingat, ketika kamu mau menjauh bukankah kamu berusaha menjauhi tawa mu sendiri? Lagi pula mereka lebih sering memberi tawa daripada tangis bukan?. Jangan egois.

Intinya, jangan pernah menyalahkan keadaan. Bagaimanapun ada kalanya sesuatu berubah mengikuti keadaan. Bukan untuk tenggelam dan menyerah pada sesuatu yang menjadikan salah dan jatuh. Tapi, sebaliknya untuk melawan agar tidak jatuh dan salah. Bisa juga dengan jatuh terlebih dahulu dan paham kalau salah. Yang pasti jangan jatuh lama-lama. Apalagi menyalahkan keadaan. Seperti elektron agar selalu netral, hidup harus selalu bergerak.

Bersinar tapi menerbitkan Sirna

Tepat, 

Kau masuk sesaat setelah ingin kututup ceritanya

Menjejak langkah pemeran sebelumnya

Dengan lebih menawan memainkan peran kisah baru

Terpana semua penikmat cerita peranmu

Kadang membingungkan tapi sering mengejutkan

Tapi kau selalu bisa,

Membuat mereka berdecak kagum lagi bertepuk 10 jari

Kau sukses menerangi ruang kosong itu

Dengan sepantik api yang kau  percikkan di sumbu lilin

Pula, Kau sukses memburai biji-biji dipermukaannya

Api semakin menggelora

Dan biji menyemai hingga berbunga

Keduanya benar-benar bersinar sempurna, jingga

Membuatku kembali menemukan irama 

Benar, ku jaga sinarnya

Dari badai yang ingin meludah bara

Dan menggenang di bunga yang mengaroma

Tapi, Benar juga

Aku hilang ingat,

Ada bias yang selalu menghantu,

Membuta dari yang sebenar-benar dilihat

Apa aku keliru memakna?

Apa aku keliru?

Kujawab sendiri tanyaku

Aku terlanjur merajut sapu tangan itu dengan benang-benang khayal

Terlalu lama dan indah sapu tangan itu

Hingga lupa kepada bias yang membutakan

Tapi tak apa

Biar ku sekap sendiri salah itu

Tak kubiarkan dia terbang berkeliaran di sekitarmu

Biar sinar yang sirna membias jadi pelangi

Kusiap sambut pemeran baru

Menyirna petang yang menghantu

Mematri kenangan kusam

Biar dia sirna, 

Sirna.

Artificial Climbing

Jadi, kali ini aku ingin berbagi cerita dan pengalaman aku. Bukan untuk apa-apa, biar bisa ingat saja. Karena jujur aku orang yang begitu pelupa. Lagi, kupikir berbagi pengalaman juga tak ada salahnya.

Oke, kuceritakan sedikit tentang latar belakangku. Aku adalah mahasiswi Jurusan Kehutanan di Universitas Gadjah Mada angkatan 2015. Aktif di salah satu organisasi yakni Mapala Silvagama (mapala kehutanan UGM) yang mana bergerak di bidang konservasi sehingga sejalan dengan jurusanku. Di Silva (sebutan singkat organisasi) aku memilih satu diantara 5 divisi yang ada, yaitu Panjat Tebing bersama satu orang lain se-gladianku (sebutan angkatan yang dilantik pada saat yang sama, Gladianku dinamai Gladian Owa). Sedangkan empat divisi lainnya antara lain Caving (Susur Goa), Rimba Gunung, Lingkungan dan Rafting.

Okay,back to the topic. Beberapa waktu lalu pada saat kami (Aku, dan kakak-kakak gladian atasku) survey untuk materi dasar gladian bawahku di Pantai Siung Gunung Kidul kami melakukan sport climbing dan artificial climbing. Memang Pantai Siung yang berada di barisan pantai selatan Gunung Kidul ini merupakan spot pemanjatan yang terkenal diantara orang-orang yang berhobi olahraga cukup ekstrim ini. Terdiri dari banyak blok, dan disetiap bloknya memiliki banyak jalur, dari yang pendek hingga panjang, mudah hingga sukar. Diantaranya yang paling terkenal adalah jalur Kuda Laut. 

Survey hari pertama kami melakukan pemanjatan sport di blok J yang terdiri dari beberapa jalur (sepertinya 3). Dan kami hanya mencoba 2 diantaranya. Karena salah satu jalurnya sudah berlumut dan basah sehingga tidak memungkinkan. Pemanjatan hari kedua, paginya kami melakukan pemanjatan sport juga di blok E serta siang setelah makan, kami bersiap untuk artificial climbing / pemanjatan artificial.

Dalam pemanjatan artificial terdapat istilah first man dan second man. First man adalah orang yang melakukan pemanjatan pertama, bertugas untuk membuat jalur, membuat pengaman setelah sampai diatas untuk dirinya sendiri dan untuk secondman, membuat instalasi untuk belaying second man dan untuk belaying ketika first man turun atau second man turun terlebih dahulu. Sedangkan second man adalah orang yang memanjat setelah jalur dan pengaman sudah siap dan di belay oleh first man dari atas. Untuk cleaning jalur bisa dilakukan ketika first man atau second man turun dahulu, maupun ketika second man naik. Saat itu kami (Aku dan Reza, teman se Gladianku) memutuskan aku sebagai first man dan Reza sebagai second man, sedangkan cleaning jalur dilakukan Reza sembari naik dan aku adalah pemanjat yang akan turun terlebih dahulu.
Langkah pertama pertama yang harus dilakukan adalah Ormed (orientasi medan), memandangi tebing yang akan di panjat dan membayangkan cacat tebing yang akan di pegang dan sebagai injakan kaki, serta karena pemanjatan artificial maka yang terpenting harus dilakukan adalah cacat tebing yang dapat digunakan untuk jalur misalnya lubang tembus yang dapat dibuat tambatan dengan prusik dan diberi CONS (Carrabinner Oval Non Scrue) ataupun snap yang disimpul kambing. Sepanjang jalur menggunakan CONS maupun snap karena agar lebih mudah memasukkan carmantel yang menyatu dengan pemanjat. Cacat tebing lainnya adalah lubang yang bisa dimasuki hexa atau stopper, crack maupun lubang agak besar yang dapat dipasang friend. Serta dengan phyton blade atau angel yang prinsipnya hampir sama dengan memaku, yaitu menancapkan ujung phyton ke tebing dengan bantuan hammer. Pembuatan tambatan yang terakhir ini jarang dilakukan karena kerusakan tebingnya lebih besar diantara yang lain. Sedangkan untuk pengaman dan instalasi mutlak menggunakan COS agar lebih aman.

Setelah ormed dan menghitung jumlah anchor yang dibutuhkan untuk jalur dan pengaman serta instalasi, kami mulai bergegas. Memasangkan alat-alat yang dibutuhkan friend 3 ukuran, hammer, phyton 3 buah, prussik sekitar 6 buah, cordellete 2 buah, sling webbing, COS, dan CONS serta snap yang aku lupa jumlahnya.

“Belay on”,  Aku ucapkan dan dibalas oleh Reza “on belay” Katanya. Karena tebing yang dipanjat cukup mudah maka kami cukup santai dan tidak terburu-buru. Aku mulai memanjat dan memasang sekitar 3 pengaman di jalur dengan 2 friend dan satu prusik (sepertinya).Sesampainya diatas aku membuat 2 pengaman untukku agar pembelay tidak terlalu lama mem- back up aku dari bawah (istilahnya free). Kemudian setelah aku bergelantungan pada kedua pengamanku aku membuat pengaman untuk Reza. Membuat pengaman tidak boleh asal, harus dicoba dan di hentak kekanan kekiri dan atas bawah. Ketika sudah yakin, barulah membuat pengaman lain. Setelah kubuat pengaman untuknya disebelah kiriku, Aku segera membuat instalasi di tengah-tengah. Pertama dengan membuat 3 pengaman, kemudian ketiga pengaman dihubungkan dengan sebuah cordellete sehingga jika ditarik membentuk lingkaran dan simpul diletakkan di pinggir bagian kiri.bagian cordellete yang berada diantara COS ditarik kebawah kemudian diputar dan bersama bagian cordellete dibawahnya dihubungkan dengan COS. Setelah semuanya bersiap, Aku bersiap untuk membelay Reza dari atas menggunakan Gri-gri (salah satu belay device). Gri-gri kuletakkan di instalasi dan dengan prinsip seperti katrol aku belay Reza dari atas. Setelah dia sampai diatas, memasang pengamannya, dia bersiap membelay Aku untuk turn. Dan setelah siap, aku turun dengan teknik climb down, akhirnya menapak tanah lagi. Alhamdulillah he he 

Batas


“Semua orang memiliki ketakutannya masing-masing, kelemahannya masing-masing”

Tak bisa dipungkiri, setiap manusia lahir sembari menggenggam keterbatasannya masing-masing. Entah dari segi fisik, mental, material, semuanya. Keterbatasan dan ketakutan? Apa sama? Lalu apa yang membedakan?.

Kupikir dua hal itu berbeda, namun bisa jadi berkaitan. Keterbatasan kadang bisa saja murni memang karena kesempurnaan yang memang tidak dimiliki manusia. Bisa juga muncul karena ketakutan. Ketakutan yang membuat batas itu ada. Pikiran negatif, kecemasan yang berlebih, membuat batas itu semakin jelas terlihat dan membuat enggan untuk mencobanya. Mereka yang memiliki keterbatasan namun tidak memiliki ketakutan pasti tidak pernah berhenti mencoba meskipun memang sudah mentok. Tidak bisa. Namun, beberapa dengan kekurangannya dan diluar nalar orang lain. Banyak orang hebat yang bisa membuat orang terkesima karena aksinya. Mereka orang-orang super. Sedangkan ia yang rasa takutnya meraja lela pasti tak pernah mau mencoba, kalah dengan rasa takutnya.

Sebelumnya kupikir semua itu keterbatasanku, setelah aku renungi, ternyata sebagian memang ketakutan yang kubuat sendiri. Bagaimanapun juga setiap hal yang membuatmu berkembang, pasti ada satu atau lebih ketakutan yang sudah kamu kalahkan. Entah kecil atau besar, yang pasti kamu sudah menang atas dirimu sendiri. Menurutku “menembus takut” lebih cocok dari “menembus batas”  Sedangkan keterbatasan menurutku perlu ada. Yaaps, kamu diciptakan untuk bersyukur. Menerima. Keterbatasan adalah guru terhebat. Penguji rasa syukur, sabar, dan pasrah. Bayangkan kalau kamu sempurna, apa bisa melawan sombongmu..?

Jangan lupa bersyukur atas batas yang Tuhan ciptakan untukmu dan kalahkan takutmu karena kamu butuh berkembang

Sapa


Satu kata. 3 huruf. Abjad kedelapan, abjad pertama dan abjad kesembilan, kadang ditutup seru. Sangat sederhana dengan makna yang berjuta. Kata ini yang sering diucap entah langsung atau lewat sosmed. Satu kata yang memulai rangkaian-rangkaian kata selanjutnya. Kata mereka tidak ada salahnya menyapa, aku setuju. Menyapa sama saja menjalin silaturahmi (lagi). Kedekatan yang sempat berjarak sekian waktu dapat disusun kembali. Kekuatan sapa megurai kembali ingatan2 sendu, kecewa, bahagia, tangis, semuanya. Kadang membuat tersenyum, tertawa geli, hingga tertunduk dalam diam.

Kapan terakhir kali kamu menyapa? Bukan, bukan dia. Maksudku apa saja.Hem, terakhir kali aku menyapa adalah 3 detik lalu. Saat menulis ini. Aku menyapa akun ku ini yang kubuat sekitar oktober lalu. Lewat semua yang kutulis, Aku menyapa banyak hal. 
Aku menyapa diriku sendiri, berusaha memahami apa sebenarnya yang aku mau. Apa yang baik untukku dan harus aku lakukan. Ya, ya aku harus menyapaku sesering mungkin.

Aku tidak mau kalah dengan kesenduanku, keterbelengguan, kebingungan dan kesepian yang membunuh. Aku rasa aku sendiri yang membuatnya kacau, tapi aku terbatas, tak bisa menembus dan memperbaikinya sendiri. Maka, jelas kusapa Sang Maha Pendengar. Perlu kucurahkan amarahku, keadilan yang kurasa tidak adil, syukurku, doa dan segalanya. Kusapa Dia setiap saat. Setiap waktu. Karena Dia pendengar terhebatku.
Juga padamu, yang teristimewa. Orang-orang yang membersamaiku, disetiap jatuh dan bangkitku. Yang membuat aku begini, menjadi kaca bagiku. Motivasiku. Semoga aku bisa menyapamu hingga kita bersama menyapa dunia lewat dimensi yang berbeda. Hai kamu, apa kabar?